Heboh Penolakan Wisata Halal di Berbagai Daerah di Indonesia, Ada Apa?

Akhir-akhir ini muncul suara penolakan wisata halal dari berbagai tokoh dan pemimpin daerah di Indonesia, terakhir adanya menonaktifkan Shana Fatina selaku Dirut Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, buntut wacana wisata halal di Labuan Bajo, Manggarai Barat oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Sebelumnya Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo Shana Fatina, saat berbicara dalam acara sosialisasi paket wisata halal pada 30 April 2019 lalu, mengharapkan konsep wisata halal dapat membantu peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di daerah itu.

Selain itu, kata dia, wisata halal tersebut diharapkan dapat memperluas pangsa pasar Labuan Bajo, khususnya bagi wisatawan Muslim.

Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat sebelumnya menolak wacana wisata halal yang disebutnya hanya akan menimbulkan masalah. “Mana ada wisata di NTT pakai (wisata) halal. Wisata halal itu hanya bikin ribut nanti,” tukasnya.

Penolakan masyarakat juga terjadi di Tanah Toraja, Bupati Tana Toraja, Nicodemus Biringkanae tiba-tiba didatangi sekolompok mahasiswa dan masyarakat yang menggelar aksi massa menolak konsep wisata halal diterapkan, Bupati yang baru saja hendak menuju Gedung DPRD Tana Toraja dicegat dan dipaksa menandatangani surat penolakan wisata halal di Toraja.


Sebelumnya kegiatan seminar wisata halal akan diselenggarakan di Bali tahun 2017 juga batal dilaksanakan karena heboh di medsos gubernur dan tokoh di Bali menolak wacana Wisata Halal di Bali dan terpaksa kementrian pariwisata membatalkan acara ini.



Padahal Wisata Halal ini adalah program unggulan dari pemerintahan Jokowi sebagai harapan baru perekonomian Indonesia, Target kedua, pertumbuhan wisata halal mencapai angka tertinggi sekitar 42 persen yang dilihat berdasarkan jumlah kunjungan wisman halal tourism dunia ke Indonesia. Pada 2019, Arief menargetkan 5 juta kunjungan wisman halal tourism atau sekitar 25 persen dari target kunjungan 20 juta wisman pada tahun ini. "Angka ini naik 42 persen dibandingkan 2018 yang mencapai 3,5 juta orang," ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya melihat, peluang Indonesia mencapai target tersebut sangat besar mengingat jumlah wisatawan muslim dunia tahun 2020 diproyeksikan mencapai 158 juta dengan pertumbuhan sekitar enam persen dan total pembelanjaan 220 miliar dolar AS. Pertumbuhan tersebut diharapkan terus meningkat menjadi 300 miliar dolar AS pada 2026.



Tulisan ini akan terus berlanjut ...

0 Response to "Heboh Penolakan Wisata Halal di Berbagai Daerah di Indonesia, Ada Apa?"

Post a Comment

Terima kasih bila anda memberikan komentar, semoga saya bisa cepat respon.